Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya
Login | Hubungi kami SMP/SMA : 087815583999/08113007055

CUKUR

17 March 2019 14:18:56, by Administrator

Artikel ditulis oleh: Muchammad Salahuddin Thalut (Guru Bhs. Inggris SMA Al Hikmah Boarding School Batu)

https://www.instagram.com/smaalhikmahbatuboardingschool/

CUKUR. Tepat pelajaran Kimia, saya masih ingat, ditengah-tengah pelajaran guru saya pak Jatmiko, meminta saya untuk mengikutinya ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru, beliau menanyakan kepada saya tentang model rambut saya. Saya pun menjawab bahwa ini adalah model rambut David Beckham. Memang pada saat itu, model mohawk dengan ciri khas bagian tengah rambut berdiri tegak lagi booming. Tanpa banyak ucap, pak Jat (kami biasa memanggil beliau) langsung mengambil gunting dari laci meja kerjanya. "Bapak rapikan ya mas" Langsung saja, beliau menggunting bagian tengah rambut saya. Alhasil, jadilah potongan rambut saya, menjadi potongan rambut teraneh tahun itu. Bagian tengahnya tercukur hampir habis, sementara bagian pinggirnya masih panjang. Tentu saja, ada momen di mana teman-teman di kelas tertawa terbahak-bahak melihat potingan rambut saya.

Sepulang sekolah, sayapun langsung menuju ke pangkas rambut "Anda" untuk merapikan rambut saya. Bagi saya, cukup rasa malu ini hanya sampai di sekolah saja. Jangan sampai, ketika tiba di rumah dengan model rambut aneh itu, saya menjadi bahan tertawaan keluarga. 

Di masa itu, orang tua benar-benar sangat percaya kepada sekolah, hampil mustahil ditemukan walimurid yang protes apabila anaknya mendapatkan hukuman dari gurunya. Apalagi sampai membawa urusan ini ke ranah hukum. Selain pada masa-masa itu orang tua kita minim pengetahuan tentang hukum (atau dibuat minim oleh pemerintahan sebelum-sebelumnya), mereka juga korban dari doktrin-doktrin pendidikan feodalisme dan kolonialisme bahwa kekerasan di sekolah itu tidak masalah, yang melanggar aturan harus ditindak tegas. Ibu saya saja, sering bercerita tentang guru-gurunya yang suka mencubit dan memukul (menempeleng). 

Hal ini tentulah berbeda dengan era keterbukaan seperti saat ini. Orang tua bahkan anak-anak sudah bisa dengan mudah mencari tahu informasi hukum yang terkait dengan kekerasan terhadap anak-anak. Mereka juga mudah mengakses referensi-referensi pendidikan di zaman modern ini. Sehingga jika ada perbedaan model pendidikan antara rumah dan sekolah, maka mereka tidak segan untuk menyuarakan pendapat mereka. Minimal mereka protes di "dunia maya". Tinggal protes mereka ini masuk kategori yang bisa "digoreng" oleh media atau bukan. Sampai-sampai ada teman yang "guyon" kepada saya dengan bilang "jangan terlalu keras sama murid era sekarang ini, bisa dilaporkan kak Seto nanti."

Ngomong-ngomong tentang kak Seto, data KPAI menyebutkan bahwa 84 persen siswa mengalami kekerasan di sekolah. Ada sebanyak 45 persen siswa laki-laki dan 22 persen siswa perempuan yang menjadi subjek penelitian menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan. Lalu definisi kekerasan ini apa? Menurut Permendikbud nomor 82 tahun 2015 Tindak kekerasan adalah perilaku yang dilakukan secara fisik, psikis, seksual, dalam jaringan (daring), atau melalui buku ajar yang mencerminkan tindakan agresif dan penyerangan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan dan mengakibatkan ketakutan, trauma, kerusakan barang, luka/cedera, cacat, dan atau kematian. Apakah guru di Banyuwangi melanggar undang-undang ini? Tapi apakah sebenarnya undang-undang inisudah disosialisasikan dengan benar kepada para pendidik oleh pemerintah?

Bagi saya proses pendidikan adalah proses yang panjang. Tidak seperti membalikkan telapak tangan. Jika ada kekurangan dalam diri murid kita, itu adalah sesuatu yang "wajar". Maka, cara terbaik untuk meluruskan adalah dengan menasihati. Jika masih tidak berubah maka nasihati lagi. Dan terus nasihati lagi. Itulah kenapa kita kenal istilah-istilah dalam Al Quran seperti Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik), Qaulan Sadida (perkataan yang tegas dan benar), Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut), Qaulan Maisura (perkataan yang pantas), Qaulan Baligha (perkataan yang membekas pada jiwa), dan Qaulan Karima (perkataan yang mulia). 

Ya, pendidikan itu adalah dakwah. Mengajak dan mengajari murid-murid kita dari ketidak tahuan menjadi tahu, dari belum baik menjadi baik. Dan dakwah itu tidak pernah mudah. Maka dari itu Bersabarlah wahai para guru sang mujahid pendidikan.

Referensi:
1. Quran
2. https://nasional.tempo.co/read/1084922/hari-pendidikan-kpai-84-persen-siswa-alami-kekerasan-di-sekolah
3. Permendikbud No. 82 tahun 2015 bisa diakses di http://simpuh.kemenag.go.id/regulasi/permendikbud_82_15.pdf


https://www.instagram.com/smaalhikmahbatuboardingschool/